Telah banyak ulasan mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, baik di media cetak maupun internet. khusus internet, silahkan anda coba googling, akan ditemukan lebih dari 51.000.000, dengan kata kunci ‘csr’. Untuk kata kunci ‘tanggung jawab sosial perusahaan’ ada 1.140.000 hasil. Ini berarti pemahaman mengenai CSR sudah cukup membumi, dan hampir semua ulasan tersebut memberikan tanggapan yang positif terhadap pelaksanaan CSR dalam sebuah perusahaan. Menurut draft 4.1 ISO 26000, guidance standard on social responsibility (SR), ada 7 isu pokok, yaitu: pengembangan masyarakat, konsumen, praktik kegiatan institusi yang sehat, lingkungan, ketenagakerjaan, hak asasi manusia, dan organizational governance (tata kelola organisasi). Tetapi apakah sudah semua pelaku bisnis (baca: perusahaan) menerapkan program CSR menjadi bagian dari rencana strategis atau untuk level lebih tinggi menjadikannya sebagai code of conduct perusahaan?

Pemahaman yang beredar di masyarakat mengenai CSR, yaitu: pertama, merupakan bagian dari kegiatan “bagi-bagi duit” (charity) perusahaan kepada pihak-pihak tertentu, baik disekitar lokasi perusahaan maupun pihak-pihak diluar perusahaan yang membutuhkan. Kedua, masih terdapat dua kubu dalam penerapan CSR di lapangan; yaitu pihak yang mewajibkan (mandatory), dijadikan sebagai bagian dari rencana strategis perusahaan, karena menjalankan bisnis bukan hanya sekedar profitability tapi juga sustainability, dan pihak sukarela (volunteer), karena menganggap tanggung jawab sosial adalah kewajiban pemerintah saja.

Lepas dari bagaimana pandangan umum tentang CSR, mari kita renungkan hal ini. Sebuah perusahaan dapat dianalogikan sebagai seorang manusia yang mempunyai beberapa kebutuhan dasar (basic needs), menurut Abraham Maslow ada 5 tingkatan hirarki, yaitu kebutuhan fisiologis (pangan, sandang, papan), kebutuhan keamanan dan keselamatan, kebutuhan sosial (berteman, berkeluarga), kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Konon, di akhir hayatnya Maslow merasa bahwa hirarki yang disusunnya menjerumuskan orang kepada keserakahan dan ketamakan, jadi seharusnya hirarki tersebut dibalik susunannya. Dalam buku Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, terbitan Mizan. Danah Zohar dan Ian Marshall juga menyinggung tentang ‘pembalikan’ hirarki Maslow tersebut. Mereka juga menyebutkan bahwa di samping modal materiil dan modal sosial, modal spiritual juga dibutuhkan dalam pengelolaan bisnis. Keberhasilan dan kesuksesan adalah sebuah proses, bertahap dan dengan selalu menebar manfaat dan memberikan makna kepada kehidupan. Itu adalah hukum alam yang harus dijalani.

Perusahaan memang berbicara tentang bagaimana mencari untung, membangun kepuasan pelanggan, membangun image perusahaan, menghasilkan produk yg berkualitas, dan lain sebagainya, tetapi ada tingkatan yang lebih tinggi dari itu semua, yaitu bagaimana bisnis bisa memberi makna dan bermanfaat. Perusahaan juga tidak mungkin bisa survive tanpa perusahaan lain; mempunyai komunitas untuk mengembangkan jejaring kerjasama, pengakuan eksistensi oleh pihak lain, sehingga kelangsungan hidupnya (sustainability) terjaga. Berangkat dari basic needs tersebut maka penerapan CSR sebaiknya bukan lagi merupakan bagian dari rencana strategis perusahaan tetapi levelnya meningkat menjadi kewajiban atau aturan yang memang harus dilaksanakan sebuah perusahaan tanpa ada imbalan atau kepentingan apapun, bila ada, misalnya peningkatan citra dan merek perusahaan di mata publik, meminimalisir dampak negatif dari operasional perusahaan, membangun kepercayaan (trust) dan sense of belonging konsumen. itu hanya sebagian ‘bonus” yang pasti diterima perusahaan.