Apa yang terlintas dipikiran kita setelah mendengar dua kata Silicon Valley? Tempat apakah itu? Sampai-sampai Presiden Rusia Dmitry Medvedev ingin membangun Silicon Valley di Rusia (Kompas). Setelah ditelusur dari tempat ini muncul perusahaan-perusahaan teknologi kelas dunia, seperti Google, Yahoo!, Apple, Intel, Adobe System, Cisco System, eBay, Hewlett-Packard, dll. Lebih tepatnya lahirnya jagoan-jagoan IT seperti Larry Page dan Sergey Brin, Jerry Yang, dll., detailnya ada disini. Kira-kira apa yang membuat para mahasiswa tersebut bisa sukses?  Ada apa dengan Silicon Valley (AADSV)? Kabarnya ada dua faktor yang mendukung kesuksesan orang-orang tersebut, yaitu kreatifitas berinovasi dan entrepreneurship. Ayo.. Ikuti terus tulisan berikut ya.. 🙂

Ternyata Silicon Valley (lembah Silikon) adalah julukan untuk suatu tempat di daerah Selatan dari San Francisco Bay Area di California, Amerika Serikat. Julukan ini diraih karena daerah ini memiliki banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer dan semikonduktor. Daerah yang termasuk kedalam jajaran Silicon Valey antara lain adalah San Jose, Santa Clara, Sunnyvale, Palo Alto, dll. Ditempat ini pula ada salah satu universitas besar dunia, Stanford University (www.stanford.edu), yang dari universitas inilah dikabarkan jagoan-jagoan IT bermunculan. Kenapa? Di Stanford, banyak sekali riset-riset yang merangsang inovasi teknologi tinggi sehingga kampus tersebut sangat produktif dalam menghasilkan produk-produk IT. Jadi riset-riset tersebut dapat langsung diimplementasikan oleh mahasiswa Stanford secara nyata tidak terbengkalai begitu saja menjadi tumpukan kertas.

Pengembangan entrepreneurship sangat bagus. Ide-ide dari mahasiswa tersebut dapat diimplementasikan karena terdapat begitu banyak  capital venture dan angel investor yang berani mengeluarkan sejumlah besar uang uang untuk membiayai riset kreatif dari orang-orang di Stanford (yah.. lepas dari apapun tujuan mereka membantu para periset, karena di dunia ini tidak ada makan siang gratis 🙂 ). Salah satu venture capital yang sangat terkenal adalah Sequoia Capital. Para angel investor di Silicon Valley juga bersedia mengambil resiko bersama dengan sang kreator inovasi. Mereka bersedia membukakan peluang yang sangat besar untuk orang-orang yang punya ide inovatif. Dengan adanya dukungan besar inilah para periset dan inventor mulai bermunculan, berani mencari dana diluar kampus untuk pengembangan dan pengaplikasian hasil risetnya.

Kondisi di Indonesia

Saya pikir di Indonesia juga sangat mungkin dibuat konsep SV, karena baik dari segi kemampuan berinovasi dan banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang ada. Untuk faktor kemampuan berinovasi saya sangat yakin kita punya banyak SDM yang mampu berinovasi baik di bidang IT maupun bidang yang lain. Hacker Indonesia cukup diperhitungkan di dunia maya dan kalau kita lihat ajang seperti Black Innovation Award (sebuah ajang bergengsi dalam hal penemuan-penemuan inovatif yang bisa digunakan dalam keseharian yang disponsori oleh salah satu perusahaan rokok), banyak sekali penemuan-penemuan yang kreatif inovatif yang belum terpikirkan sebelumnya.

Sekarang tinggal iklim kewirausahaan yang perlu dikembangkan, seandainya para pengusaha, owner, para filantrop, perusahaan-perusahaan besar mau mendukung para inventor-inventor muda sehingga tercipta sinergi yang saling menguntungkan, SV Indonesia bukan hal yang mustahil.

Mungkin kita pernah mendengar BHTV (Bandung High Tech Valley) yang diprakarsai oleh Pak Budi Raharjo, mengingat Bandung memiliki dua perguruan tinggi besar yaitu Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung. Mudah-mudahan hal ini bisa segera terealisir sehingga bisa diikuti oleh kota-kota besar lain di Indonesia. Amin

(referensi: http://mustafakamal.biz)