Posting kali ini saya mencoba menulis sesuatu yang masih debatable, ROKOK,  walaupun Muhammadiyah sudah mengeluarkan fatwa haram tentang merokok namun hal tersebut hanya berlaku untuk kalangan intern saja, walaupun masih ada saja yang tetap fokus merokok. Apalagi untuk para perokok atau sering disebut “ahli hisap”, yang melihat fatwa tersebut sebagai sebuah himbauan saja, jadi aktivitas membakar tembakau ini jalan terus.

Tembakau mengandung nikotin yang menjadi bahan dasar pembuatan rokok selain menjadi menjadi pemicu efek ketagihan seseorang terhadap merokok, sebenarnya juga sudah diklaim sebagai penyebab berbagai macam gangguan kesehatan. Bahkan pihak produsen rokok sendiri mengamini pendapat tersebut dengan mencantumkan tulisan “Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker, impotensi dan gangguan janin” (maaf bila ada kesalahan penulisan gelar nama penyakit 🙂 ) pada setiap bungkusnya.

Sisi Perokok

Industri rokok adalah industri yang sangat etis dalam berbisnis, sebab produsen rokok selalu mencantumkan akibat dari mengkonsumsi rokok seperti ditulis di atas. Tapi, apakah Anda pernah melihat bungkus sate kambing yang mencantumkan tulisan akibat dari makan sate kambing, seperti kolesterol, darah tinggi, dll?

Orang Di Sekitarnya

Saya pribadi sangat tidak nyaman berada di dekat orang merokok, apalagi sedang berada di ruang tertutup.. wah.. mending saya keluar saja deh.. Menurut informasi perokok pasif (sebutan untuk orang yang berada di sekitar perokok) mendapatkan efek nikotin yang paling besar dibandingkan orang yang merokok.

Ada ilustrasi begini, kita tahu bahwa pada setiap bungkus rokok tertulis pesan negatif akan bahayanya merokok, namun orang tetap saja merokok. Padahal saya yakin kalo misalnya di kotak Bakpia Pathok ada tulisan “Makan bakpia pathok dapat menyebabkan gangguan pencernaan, sakit perut, dan muntah-muntah”, saya yakin tidak ada orang yang akan makan bakpia pathok dan semua produsen, toko, pengecer bakpia akan gulung tikar alias bangkrut. Tapi yang aneh yaa.. rokok itu, tetep laris wae yo..

Sisi Produsen Rokok

Dengan banyaknya orang (pekerja) yang bergantung pada pabrik rokok, bahkan negara menerima cukai yang cukup besar dari setiap bungkus rokok membuat industri rokok tetap jumawa mengembangkan sayapnya. Banyak pula kita lihat kegiatan-kegiatan besar yang di-support oleh produsen rokok.

Jadi, untuk saat ini menghentikan laju kereta industri rokok sepertinya masih jauh panggang dari api. Karena masih banyak yang bergantung kepada industri yang satu ini. Namun saya pikir langkah pemerintah sudah cukup baik dengan tidak memperbolehkannya gambar rokok dalam setiap iklannya, atau adanya peraturan daerah tentang larangan merokok di tempat-tempat umum seperti di Jakarta misalnya.

Epilog. Hanya Andalah yang bisa menentukkan apakah saya akan merokok, atau akan menghentikan rokok, atau tetap merokok. Semuanya berpulang ke diri kita masing-masing. Rasanya tidak bijak bila Anda melarang anak-anak tidak merokok sambil Anda menghisap rokok.