Melihat judulnya pasti banyak pembaca yang mengira saya akan membahas tentang resep makanan atau tips menurunkan demam anak πŸ™‚ Bukan..bukan.. Ini adalah cerita sewaktu saya kuliah dulu menjadi salah satu pengurus IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Cerita ini turun-temurun dari generasi ke generasi kepengurusan. Alhamdulillah hingga saat ini cerita ini masih saya ingat dengan baik karena ada pelajaran yang sangat berharga yang bisa diambil dari cerita ini.

Kita mulai ceritanya ya.. ayoo.. ayoo.. duduk yang manis yaa.. jangan ribut lho.. πŸ™‚

Pada zaman dahulu kala ada seorang raja yang bijak ingin menguji sejauh mana kesetiaan rakyatnya. Pagi hari sekali sang pengawal raja mengumumkan pemberitahuan yang berisikan undangan makan malam untuk seluruh rakyatnya di istananya. Namun sang raja memberikan syarat, yaitu agar setiap orang yang datangΒ  membawa sesendok madu. Gentong yang besar sudah dipersiapkan untuk menampung madu tepat di depan gerbang istana yang dijaga pengawal. Kabar itu cepat tersebar, semua orang sangat gembira karena undangan tersebut.

Di sebuah rumah di pinggir desa ada keluarga yang sedang membicarakan undangan rajanya tersebut. Percakapan itu terjadi antara bapak dan ibu pemilik rumah, sementara anak-anak mereka sedang bermain.

Bapak: β€œBu, untuk undangan makan malam hari ini kita tidak perlu membawa madu”

Ibu: β€œLho.. kenapa pak? Nanti kita dianggap tidak patuh kepada raja, lagipula itu hanya sesendok madu apalah artinya, karena persediaan kita masih cukup”

Bapak: β€œBegini bu, saya yakin warga yang lain sudah membawa madunya. Untuk menghindari ketahuan pengawal, kita bawa saja sesendok air, pada malam hari tidak akan terlihat jelas”.

Ibu: β€œIyalah, kalau itu yang bapak inginkan. Nanti anak-anak saya beritahu”.

Tibalah saatnya, keluarga tersebut berangkat menuju istana dengan membawa empat sendok air, karena keluarga tersebut mempunyai dua orang anak. Tepat di depan gerbang istana ada gentong tanah liat besar sebagai tempat madu yang diminta sang raja. Keluarga tersebut menuangkan sendok-sendok air tadi ke dalam gentong.

Setelah perjamuan makan malam selesai, raja memerintahkan pengawal membawa gentong madu ke hadapannya. Ketika gentong madu sudah berada dihadapannya dan melihat isi gentong tersebut, sang raja sangat terkejut karena ternyata gentong besar tersebut hanya berisi air bukan madu yang dia harapkan. Dari sini raja bijak tersebut merasa ada yang keliru dengan tata caranya memerintah karena ternyata rakyatnya belum mematuhi apa yang dia perintahkan, dan dia merasa harus introspeksi terhadap diri sendiri karena kepemimpinannya belum mengena di hati rakyatnya.

Hikmah yang bisa diambil adalah pertama, jangan pernah menyepelekan hal-hal sekecil apapun, karena akumulasi hal kecil akan menjadi besar dan tak terduga. Kedua, ketika rekan, staf, ataupun keluarga melakukan kesalahan, jangan terburu-buru menimpakan kesalahan kepada orang lain, tetapi sebaiknya kita lakukan instrospeksi diri adakah kebijakan atau hal-hal yang kita lakukan yang membuat orang lain berbuat kesalahan.