Saya yakin Anda sering mendenar istilah INOVASI, istilah ini sebenarnya bukan hanya milik para pemain bisnis saja, namun, setiap profesi membutuhkannya. Kata inovasi atau innovation berasal dari bahasa latin innovatio yang berarti renewal atau renovation, berdasar pada novus (new). Dalam situs Wikipedia diartikan sebagai “proses” dan/atau “hasil” pengembangan dan/atau pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial).

Menurut Alan William dalam bukunya Creativity, Invention and Innovation (1999):

Innovation can be described as the art of applying the new and the better, and more spesifically the process by which entrepreneurs are catalyst for change by converting opportunities into marketable realities.

Inovasi berkaitan dengan aktivitas penciptaan perubahan dan perbaikan. Perubahan yang berarti juga mengenalkan sesuatu yang baru dengan menggantikan yang lama menuju ke suatu hal yang lebih baik. Perubahan merupakan sebuah proses yang pasti terjadi, karena untuk bisa survive kita harus menyesuaikan (adaptif) dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam lingkungan internal maupun eksternal.

Inovasi juga membutuhkan proses yang memakan waktu. Seringkali sebuah proses yang instan kurang bisa menghasilkan sesuatu yang tidak optimal karena lemahnya variabel pengalaman dan pengamatan, sehingga untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan persiapan. Untuk men-trigger proses inovasi diperlukan seorang inovator yang visioner, berpikir kreatif dan adaptif. Seseorang yang inovatif mampu mendekati masalah dari sudut yang berbeda dengan orang kebanyakan, mereka mengungkapkan masalah dan lebih memilih berpikir dengan cara yang tidak lazim.

Menurut Dr. Arifin, secara tekstual (harfiah) hijrah adalah berpindah, sedangkan secara kontekstual makna hijrah adalah ‘membaharui hidup dalam segala aspek pada kondisi hasil karya hari ini lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini’. Jadi, hakikat makna hijrah secara kontekstual adalah inovasi.

Seseorang yang memiliki konsep hijrah dalam dirinya akan selalu menjunjung tinggi prinsip bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, karena ketika hari ini sama dengan hari kemarin di akan merasa merugi. Tuntutan hal tersebut terdapat dalam hadist-hadist berikut:

  1. Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya).
  2. Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Tholib, cucu Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangan beliau rodhiallohu ‘anhuma, dia berkata: ”Aku telah hafal (sabda) dari Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i. Tirmidzi berkata: Ini adalah Hadits Hasan Shahih).

Setiap hamba Allah yang selalu berusaha untuk berhjarah/berinovasi atau selalu membangun sikap dan perilaku hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini dalam bingkai keimanan yang kokoh, maka kelak diakhirat hamba tersebut akan dimasukkan dalam surga, dimana surga itu dia yang memilih. Prinsip ini bisa kita tangkap dari makna kontekstual dari Al Qur’an surat ke 22/ Al Hajh: 59 “Demi (orang-orang yang berhijrah/inovasi) sesungguhnya Dia (Allah) akan memasukkan mereka ketempat (surga) yang mereka sukai (dia sendiri yang memilih). Sungguh Allah Maha mengetahui dan Maha penyantun.

Versi lengkapnya silahkan unduh di: Inovasi dalam bisnis Islam (doc) dan versi pdf-nya.

photo by: inventorspot.com/articles/bikers_invited_innovate_or_die_7741