Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar Ra’d, ayat 11)

Penggalan Surat Ar-Ra’d ayat 11 di atas sangat indah melintas di ingatanku kembali pagi ini, dan seakan-akan saya mendapat pencerahan atas makna yang terkandung di dalamnya. Begini ceritanya..

Pagi ini saya sudah berniat membayar pajak motor tahunan yang sudah mendekati jatuh tempo, sebenanya bukan motor milik pribadi karena saya hanya dimintai bantuan oleh saudara untuk mengurusnya. Awalnya saya sempat akan menolak, namun karena belum pernah dan tidak tahu persis dimana lokasi samsatnya. Setelah saya pikir lagi, tak ada salahnya kucoba karena saya yakin akan mendapatkan pengalaman baru.

Saya mampir ke kantor sebentar sambil memeriksa dokumen kelengkapannya, ada BPKB, STNK, fotokopi KTP. Hmm.. saya sempat ragu karena menurut informasi dari teman-teman sekantor untuk mengurus pajak motor harus disertai KTP pemilik asli (bukan fotokopi). Tapi karena jatuh tempo sudah dekat saya nekat mencoba mengurusnya tanpa membawa KTP aslinya.

Sesampainya di Samsat, yang jaraknya lebih kurang 15km, saya langsung menuju menuju loket yang ditunjuk. “Selamat pagi pak, mohon informasi, kalau mau bayar pajak motor berkas yang diminta apa saja njih?” kataku dengan sopan, kulihat beliau sedang sibuk memeriksa berkas-berkas pengajuan pajak lain yang cukup banyak. Sambil melihat ke arahku petugas loket menjawab “BPKB, STNK dan fotokopinya, KTP asli” sambil melanjutkan pekerjaannya lagi. Wadoohh… benar dugaanku, ternyata harus menggunakan KTP asli. Tapi, untuk memastikan, kutanya lagi “Pak, saya bukan pemilik kendaraannya, jadi saya tidak membawa KTP asli. Seandainya fotokopinya saja, bagaimana pak?”. “Tidak bisa mas..” katanya sambil menggeleng. Kenapa ya.. hanya KTP asli saja yang kurang tetap tidak bisa, padahal saya bawa dokumen lain sudah lengkap lho..  Waahh.. alamat harus pulang dulu nih..

Saya menuju ke tempat parkir dengan agak kecewa. Tiba-tiba saja petugas parkir bertanya “Bagaimana mas, sudah selesai urusannya?”. Kujawab “Belum pak, harus bawa KTP aslinya”. Lalu dia mendekatiku dengan serius dan berkata “Gampang mas.. ada yang bisa mbantu ngurusnya, monggo..” si bapak sambil menunjukkan sebuah warung sembako. Di depan warung tersebut dengan papan berwarna kuning tertulis BIRO JASA PENGURUSAN SIM, STNK.. bla..bla.. saya lupa terusannya. Seperti yang kita tahu ada banyak jasa pengurusan semacam itu di sekitar Samsat. Sambil ragu-ragu kuikuti bapak petugas parkir memasuki warung tersebut. Kupikir tak ada salahnya kalau kuntanya dulu karena tidak ada KTP asli. Sesampainya di warung..

Bu, iki arep ono sing ngurus pajek” (Bu, ini ada yang mau mengurus pajak) katanya dalam bahasa Jawa.

Yoh.. sudah bawa syaratnya mas?” tanya si ibu. Beliau sudah paruh baya, namun tetap energik.

Sudah bu, tapi saya tidak bawa KTP asli bu.. apakah bisa?

Bisa mas, mana berkasnya..” kata si ibu dengan yakin.

Saya kaget.. Lho.. koq bisa ya.. Padahal tadi si petugas loket jelas-jelas mengatakan tidak bisa tanpa membawa KTP asli. Setelah saya pikir, daripada saya harus bolak-balik dan esok hari juga ada tamu yang datang ke kantor, saya mengiyakan untuk diuruskan pembayaran pajaknya, dengan biaya yang menurut saya tidak terpaut jauh dengan biaya pajaknya.

Lepas dari kenapa bisa begini atau begitu.. Dari peristiwa ini saya ingat penggalan ayat 11 dari Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d, seperti tertulis di awal artikel ini. Bahwa sebenarnya dalam ayat tersebut Allah SWT meminta kita sebagai suatu kesatuan sesama manusia atau makhluk Allah agar saling membantu satu sama lain. Dalam mencari rezeki selain kita berdoa dan berihtiar (berusaha) dengan bekerja mencarinya (rezeki), rezeki itu akan datang melalui perantara hamba-hamba Allah SWT yang lain. Misalnya dari cerita saya di atas, ketika saya berpikir tidak adil hanya kurang satu syarat, yaitu KTP asli, koq.. tidak boleh membayar pajak. Maka buat orang lain merupakan rezeki, peluang usaha dengan membantu pengurusan maka akan ada uang jasa yang di dapat. Dan saya yakin ada banyak orang yang memanfaatkan jasanya, karena saat ini banyak orang sibuk yang tak sempat meluangkan waktu hanya untuk membayar pajak motor/kendaraannya.

Jadi, makna tersirat dalam ayat di atas bahwa sebagai sesama manusia dan mahluk Allah SWT yang lain sudah seharusnya kita saling membantu, bersinergi secara positif. Pemegang kebijakan juga perlu memahami hal ini, supaya dengan kebijakan/aturan yang dibuatnya dapat membantu serta bermanfaat bagi orang lain, sehingga tercapai kemaslahatan bersama. Amin.

Versi doc: saling memberi rezeki

Photo by: p_muniz92@flickr.com