Artikel ini terinspirasi dari cerita berikut…

Suatu hari salah seorang rekan kerja saya, ibu watie. Ibu yang baik hati dan murah senyum itu menanyakan kepada saya tentang Balanced Scorecard. Pertanyaan yang unik buat saya karena yang menanyakan adalah seseorang yang jarang bahkan mungkin belum pernah bersentuhan dengan konsep penilaian kinerja apalagi balanced scorecard. Saluuutt bu.. untuk rasa ingin tahu yang luar biasa.

Sebelum sampai kepada balanced scorecard, ada baiknya saya mulai penulisan ini dari bahasan tentang sistem penilaian kinerja (performace measurement systems) atau kita singkat SPK. Pak Robert N. Anthony dan Vijay Govindarajan dalam bukunya Management Control Systems menyebutkan bahwa SPK merupakan mekanisme untuk meningkatkan keberhasilan organisasi dalam menerapkan strategi. Tujuan SPK sendiri adalah untuk membantu pelaksanaan strategi. Dalam menyusun SPK sendiri para manajer senior memilih beberapa ukuran yang paling dapat menggambarkan strategi perusahaan.

Dulu untuk menggambarkan strategi perusahaan, ada kecenderungan hanya ukuran finansial saja yang digunakan, padahal ada beberapa kelemahan dalam pengukuran finansial, yaitu:

  • Mendorong tindakan yang menguntungkan hanya dalam jangka pendek dan
  • Banyak celah untuk manipulasi data.

Sehingga ada banyak tuntutan untuk melibatkan ukuran non finansial agar pelaksanaan strategi bisa sukses. Kini, SPK menggunakan ukuran finansial dan non finansial sebagai pengukuran kinerja dalam semua level organisasi. Nah.. salah satu contoh SPK adalah Balanced Scorecard (BSC).

Sejarah Balance Scorecard

Tahun 1990, Nolan Norton Insitute yang dipimpin oleh David P. Norton menyeponsori studi tentang “pengukuran kinerja dalam organisasi masa depan”. Bersama Robert Kaplan melakukan riset tersebut, kemudian hasil studi tersebut diterbitkan dalam Jurnal Harvard Review tahun 1992, dengan judul “Balanced Scorecard – Measures that Drive Performance”.

Hasil studi tersebut menyimpulkan untuk mengukur kinerja di dalam organisasi masa depan diperlukan ukuran kinerja yang komprehensif, yang mencakup 4 (empat) perspektif: keuangan, customer, proses bisnis/intern, inovasi dan pembelajaran. Perspektif keuangan dan costomer merupakan faktor eksternal sedangkan proses bisnis/intern, inovasi dan pembelajaran merupakan faktor internal. Secara sederhana BSC adalah kartu skor (scorecard) yang digunakan untuk mengukur kinerja dengan memperhatikan keseimbangan (balance) dari perspektif keuangan dan non keuangan serta melibatkan faktor internal dan eksternal perusahaan.

Kalau menurut buku Management Control Systems di atas, pengertian BSC adalah alat pengukuran kinerja yang menekankan keseimbangan antara ukuran-ukuran strategis yang berlainan satu sama lain, dalam usaha mencapai keselarasan tujuan (goal congruence) sehingga mendorong karyawan bertindak yang terbaik demi kepentingan perusahaan.

Jadi, ada empat pertanyaan pokok yang harus dijawab dalam pendekatan BSC, yaitu:

  • Perspektif keuangan: Bagaimana pandangan perusahaan menurut para pemegang saham?
  • Perspektif bisnis internal: Apa yang menjadi keunggulan perusahaan?
  • Perspektif customer (palanggan): Bagaimana pandangan konsumen terhadap perusahaan?
  • Perspektif inovasi dan pembelajaran: Apakah perusahaan terus melakukan pembelajaran dan melakukan inovasi terus-menerus sesuai dengan tuntutan eksternal?

Cukup sekian dulu ya.. lain kali kita sambung lagi ceritanya, soalnya kalau kebanyakan jadi malas baca ya.. Bagi yang membutuhkan slide tentang BSC, yang saya dapat dari dosen saya, dapat diunduh disini.

File lengkapnya dapat diunduh: sistem penilaian kinerja (doc) dan penilaian kinerja (pdf)