Pagi ini ketika sedang asyik online saya mendengar percakapan istri saya dengan mbah Sis, seorang nenek penjual tempe yang setiap pagi selalu setia berkeliling berjalan kaki di menjajakan dagangannya. Berikut adalah obrolannya ..

Istri: tumbas tempe mbah.. (beli tempe mbah..)

Mbah Sis: pinten bu? (berapa bu?)

Istri: kalih ewu mbah. (dua ribu mbah) sambil memberikan uang 5000rb.

Mbah: mboten gadah sing alit nopo? (apa tidak ada yang kecil/pas?)

Istri: pun mbah.. buat si mbah saja, mboten usah susuk. (sudah mbah.. buat mbah saja, tidak usah kembali)

Mbah: mboten.. njenengan tumbas kalih ewu, susue’ tigo ngewu. (tidak.. kamu beli dua ribu, kembalinya tiga ribu)

Istri: nggih.. dibekto mawon.  (iya.. dibawa saja)

Mbah: mboten.. susue’ tigo ngewu, matur nuwun.  (tidak.. kembalinya tiga ribu, terima kasih)  sambil menyerahkan uang tiga ribu kepada istri dan berlalu.

Dagangan tempe yang beliau bawa adalah tempe yang belum jadi, biasanya harus menunggu sore hari agar tempe bisa digoreng untuk disantap. Jadi, tidak semua orang mau membelinya. Walaupun begitu, mbah Sis setiap hari tetap berkeliling mencari pembeli.

Berikut adalah analisis saya tentang mbah Sis. Buat saya sosok mbah Sis adalah manusia yang luar biasa, dan ada beberapa hal yang membuat beliau saya sebut sebagai outstanding people.

USAHA/IKHTIAR. buat mbah Sis hidup berarti tidak menyerah dengan keadaan, rezeki adalah urusan Tuhan dan berada di luar sana. Jadi tugasnya sebagai manusia adalah menjemput rezeki tersebut. Usia tidak menghalanginya untuk tetap berusaha. Pola pikirnya sudah mencapai tingkat keadaan dimana tidak ada kekhawatiran akan hari esok, hari esok akan lebih baik dari hari ini (you are what you think).

KONSISTEN. Walaupun tidak semua orang mau membeli dagangannya, beliau tetap konsisten untuk menjajakan dagangannya. Saya pikir hal ini membutuhkan motivasi sekeras batu, atau ada tujuan hidup yang beliau yakini betul kebenarannya.

MANDIRI. Dengan usaha dan sifat konsisten yang dia jalankan saya bisa tahu bahwa beliau adalah orang yang mandiri dalam menjalani kerasnya hidup. Bisa saja beliau menerima uang kembalian tiga ribu tadi, karena istri saya sudah merelakannya. Namun, beliau menolaknya dengan tegas. Seakan-akan ada prinsip hidup yang beliau jaga bahwa hidup adalah berusaha bukan menerima pemberian atau belas kasihan dari orang lain.

Hari ini, saya mendapatkan ilmu hidup yang luar biasa dari seorang mbah Sis, seorang nenek penjual tempe yang ulet dan giat bekerja.